Tiga hal yang saya anggap serius: buku, puisi dan bumi
Saya menulis puisi, membaca buku dan melakukan perjalanan tidak hanya untuk membuat catatan, tetapi juga untuk berbagi bagaimana sebuah cerita atau gagasan dapat mengubah cara kita memandang realitas.
-

Metode Jakarta
Membaca Metode Jakarta yang ditulis oleh Vincent Bevins bukan semata membaca tentang sejarah, khususnya tentang Peristiwa 1965 di Indonesia, dan berbagai hal yang menjadi latar belakangnya. Buku ini membongkar rahasia gelap Perang Dingin. Amerika Serikat, lewat CIA, nggak cuma “jualan” demokrasi, tapi juga mendanai pembantaian massal untuk membasmi gerakan kiri di seluruh dunia.
-

Jayapura
Dua belas tahun sejak kunjungan pertama ke Jayapura, akhirnya di minggu terakhir Februari 2026 saya kembali ke Tanah Papua. Tak hanya sekedar menikmati kuliner lokal dan belanja oleh-oleh tradisional, perjalanan ini lebih dari sekedar berkunjung. Masuk ke kampung-kampung dan menyelami cerita di baliknya.
-

Potong Lembu
Akau Potong Lembu adalah pusat kuliner malam legendaris di Tanjungpinang. Kawasan Potong Lembu memiliki akar sejarah sebagai area permukiman pesisir tradisional yang erat dengan aktivitas perdagangan dan penyembelihan hewan (terutama lembu/sapi) pada masa lalu. Terletak di tepi laut, kawasan ini mencerminkan sejarah panjang Tanjungpinang sebagai pusat perdagangan Melayu dan Tionghoa di Kepulauan Riau.
-

Perjalanan ke IKN
Udara di Kalimantan Timur pada pertengahan Januari 2026 terasa berbeda. Bukan hanya karena guyuran hujan yang menyegarkan, tetapi karena getaran energi progresif yang menguar di setiap sudut Ibu Kota Nusantara (IKN). Kunjungan saya kali ini memiliki tujuan spesifik: bertemu dengan tim di Kedeputian Transformasi Hijau dan Digital dan melihat langsung perkembangan pembangunan IKN.
-

Thirst
Solusi air bersih sebenarnya sederhana dan terjangkau – hanya butuh kemauan politik dan partisipasi masyarakat. “charity; water” yang didirikan oleh Scott Harrison dan Komodo Water oleh Shana Fatina, menjadi bukti nyata.

