“Bumi tidak meminta kita untuk menjadi pahlawan. Ia hanya meminta kita untuk berhenti menjadi tamu yang jahat”

Ini adalah ruang di mana kegelisahan dan kekaguman bertemu. Saya percaya bahwa puisi adalah napas, perjalanan adalah guru, dan bumi adalah rumah kita bersama. Melalui tulisan di sini, saya ingin berbagi narasi tentang cinta yang inklusif, kemanusiaan yang membumi, dan keresahan akan perubahan iklim yang mengancam masa depan. Mari kita berjalan, merenung, dan berbagi bersama. Karena setiap kata yang peduli adalah sebuah aksi
Catatan
- Catatan di Colomadu
Tahun 2016 merupakan tahun terakhir saya tinggal di rumah Colomadu, Karanganyar (sejak 2008) sebelum pindah kembali ke rumah di Mbesi, Sleman, Yogya. Di tahun ini saya sempat menulis beberapa catatan, sebagian besar tentang refleksi diri.… Read more: Catatan di Colomadu
- Catatan di Colomadu
Tahun 2016 merupakan tahun terakhir saya tinggal di rumah Colomadu, Karanganyar (sejak 2008) sebelum pindah kembali ke rumah di Mbesi, Sleman, Yogya. Di tahun ini saya sempat menulis beberapa catatan, sebagian besar tentang refleksi diri. Selamat membaca dan merenungi (jika memang menarik). Malam tak lagi menjadi milikku, Demikian juga hati dan tubuhku, Dunia yang menarik… Read more: Catatan di Colomadu - Disebabkan oleh Angin – WS Rendra
Membaca puisi “Disebabkan oleh Angin” karya WS Rendra, saya menemukan sebuah mahakarya miniatur yang memadukan observasi alam yang tajam dengan gejolak batin yang paling manusiawi, menjadikannya sebuah pernyataan cinta yang universal namun tetap intim. Bahasanya jujur dan gamblang. Rendra tidak hanya menggambarkan sebuah adegan, tetapi langsung membawa pembaca ke dalam pusaran perasaan yang dialami sang… Read more: Disebabkan oleh Angin – WS Rendra - The Future We Choose
dan Indonesia di tepi jurang iklim Banjir bandang dan tanah longsor yang kembali melanda Sumatera di akhir bulan November 2025, merenggut nyawa, menghanyutkan rumah, dan menyisakan nestapa, bukan sekadar “bencana alam”. Itulah secuil wajah masa depan yang kita pilih sehari-hari. Sebuah masa depan yang ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan kebijakan pembiaran, konsesi lahan yang… Read more: The Future We Choose - Pulang ke Alam
Luka kelam 1965 yang tak Pernah Pulang di Indonesia Kini Di tengah hiruk-pikuk era digital dan polarisasi politik Indonesia modern, di mana istilah “balas dendam sejarah” dan “rekonsiliasi” kerap menjadi hashtag kosong, Novel Pulang & Namaku Alam karya Leila S. Chudori hadir bagai suara yang menggema dari lorong waktu yang sengaja dibisukan. Buku ini bukan sekadar… Read more: Pulang ke Alam - The Green New Deal
Peta jurus hidup melawan kiamat iklim dan alarm untuk Indonesia yang setengah hati Membaca buku The Green New Deal karya Jeremy Rifkin ini membuat saya merenung dan berpikir bahwa buku ini lebih dari sekadar manifesto lingkungan. Buku ini adalah cetak biru sistematis yang menyambungkan titik-titik antara revolusi teknologi digital, energi terbarukan, dan mobilitas listrik menjadi… Read more: The Green New Deal - 2030
Menuju Indonesia Emas atau Terperangkap dalam Paradigma Usang? Bayangkan dunia di mana populasi lansia lebih banyak dari generasi muda, Afrika menjadi pasar raksasa baru, dan wanita menguasai mayoritas kekayaan global. Sebuah dunia yang sama sekali tidak kita kenal, tetapi hanya berjarak tujuh tahun dari sekarang. Inilah gambaran masa depan yang ditawarkan Mauro F. Guillen dalam… Read more: 2030 - One Green Thing
Dalam gelombang kecemasan iklim dan perasaan kewalahan oleh besarnya masalah lingkungan, Heather White hadir dengan sebuah buku yang menawarkan pendekatan yang segar, personal, dan penuh harapan. One Green Thing bukanlah sekadar daftar tindakan hijau yang harus dilakukan, melainkan sebuah panduan untuk menemukan bagaimana Anda dapat berkontribusi dengan cara yang paling sesuai dengan kepribadian dan kekuatan Anda. Buku ini dibangun… Read more: One Green Thing - Melambat untuk bumi
Slow Living untuk Bumi yang Lebih Sehat Ada sebuah puisi dari penyair Amerika, W.H. Davies, yang selalu terngiang di kepala saya sejak memutuskan untuk menginjak rem: “What is this life if, full of care,We have no time to stand and stare.” (Apa arti hidup ini, jika penuh kepedulian,Kita tidak punya waktu untuk berhenti dan memandang.)… Read more: Melambat untuk bumi