Tiga hal yang saya anggap serius: buku, puisi dan bumi
Saya menulis puisi, membaca buku dan melakukan perjalanan tidak hanya untuk membuat catatan, tetapi juga untuk berbagi bagaimana sebuah cerita atau gagasan dapat mengubah cara kita memandang realitas.
-

Perjalanan ke IKN
Udara di Kalimantan Timur pada pertengahan Januari 2026 terasa berbeda. Bukan hanya karena guyuran hujan yang menyegarkan, tetapi karena getaran energi progresif yang menguar di setiap sudut Ibu Kota Nusantara (IKN). Kunjungan saya kali ini memiliki tujuan spesifik: bertemu dengan tim di Kedeputian Transformasi Hijau dan Digital dan melihat langsung perkembangan pembangunan IKN.
-

Thirst
Solusi air bersih sebenarnya sederhana dan terjangkau – hanya butuh kemauan politik dan partisipasi masyarakat. “charity; water” yang didirikan oleh Scott Harrison dan Komodo Water oleh Shana Fatina, menjadi bukti nyata.
-

2025: Catatan Perjalanan Hijau
Tahun 2025, saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk misi yang mind-blowing: membantu tim proyek GIZ-GESIT (Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation), proyek kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas dan BMZ Jerman. Vibes utamanya adalah mendukung transisi Indonesia menuju konsep Ekonomi Hijau dan memastikan kita punya tenaga kerja terampil buat Green Jobs.
-

2026: apa yang akan kita temui?
Pada tahun 2026, bangsa Indonesia akan bangun dalam realitas di mana dampak perubahan iklim bukan lagi ancaman yang dibicarakan di meja-meja seminar, workshop atau webinar, tetapi kondisi harian yang harus dihadapi.
-

The Future Earth: Mimpi iklim Indonesia di tepi jurang optimisme
Buku ini menawarkan sesuatu yang jarang kita temui: optimisme yang radikal. Bukan optimisme naif, tetapi optimisme yang bekerja, yang dibangun di atas sains keras, imajinasi sosial yang luas, dan keyakinan bahwa kita masih bisa—bahkan harus—membayangkan dan membangun masa depan yang layak dihuni.

